Friday, June 27, 2014

Oleh-Oleh dari Dolly

Genap seminggu saya pulang dari Dolly, lokalisasi terbesar di Asia Tenggara yang 18 Juni 2014 kemarin dideklarasikan penutupannya oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini di Islamic Center Surabaya.
Jumat siang minggu lalu, saya masuk ke Dolly dengan tim Sudut Pandang, MetroTV, industri media yang membayar saya untuk mengerjakan hobby saya. Produser, presenter, tiga kameramen, dan dua driver dengan dua mobil. Dari ujung jalan, Dolly memang ditutup. Ada portal yang dijaga oleh dua pria berseragam polisi dan belasan anak muda yang tergabung dalam FPL (Front Pekerja Lokalisasi). Setelah menjelaskan bahwa kami awak media dan sudah ada janji dengan Pokemon (Saputra), Ketua FPL, kami pun dipersilahkan masuk.
Sebelum mencapai posko FPL, kami melewati tiga portal dengan penjagaan yang sama ketatnya, padahal jarak posko dan ujung jalan tak sampai satu kilometer. Jalanan itu sudah seperti kota mati di siang hari. Salah satu kameramen saya berkata, "Suasananya panas. Siap-siap aja kalau nanti di sini tiba-tiba aparat bentrok sama FPL, kita bukan syuting Sudut Pandang, tapi Breaking News."
Setibanya kami di posko yang sederhana, kami dipersilahkan menunggu Pokemon. Tak lama, datang beberapa wartawan lain dari beberapa media yang berbeda. Ya, warga Dolly mempersilahkan media meliput Dolly dengan bebas selama 19-20 Juni 2014 untuk membuktikan bahwa Dolly belum tutup dan mereka siap melakukan perlawanan. Setibanya Pokemon, Ia bercerita bahwa kemarin ada puluhan wartawan yang meliput Dolly, baik dalam maupun luar negeri. Namun ada beberapa wartawan yang membayar PSK agar PSK tersebut mengaku bahwa Ia setuju dengan penutupan Dolly. Alhasil, PSK tersebut diusir dari Dolly dan warga mengecam aksi wartawan tersebut.
Tujuan tim kami memang untuk melakukan syuting dengan warga Dolly tentang sikap mereka pasca penutupan. Tayangan ini pun tayang besok, Sabtu, 28 Juni 2014, pukul 20.05 WIB di MetroTV. Tapi sebenarnya saya melakukan riset pribadi di daerah ini.
Hampir sore, saya, produser, dan presenter berkeliling Dolly, masuk ke salah satu wisma, atas seizin Pokemon dan pemiliknya. Ada geliat kehidupan normal di dalamnya. Ada juru masak yang sedang bekerja di dapur, memasak makanan porsi besar untuk mengisi perut para pejuang penolak penutupan lokalisasi Dolly garis depan. Beberapa PSK (termasuk narasumber kami) pun masih tertidur pulas setelah semalaman menerima tamu. Jam tidur mereka pasti sudah terbalik, seperti kelelawar. Di luar wisma, ada beberapa PSK sedang berlatih upacara bendera. FPL merencanakan upacara pengibaran bendera untuk menunjukkan pada masyarakat di luar sana bahwa Dolly merdeka. Cukup lama saya duduk mengamati mereka. Tak sedikit yang tak hafal lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta sehingga dibantu teks sambil menghafal pelan-pelan. Salah satu dari yang melatih mereka mendekati saya, dan berkata, "Ya maklum lah Mbak, ga sedikit dari mereka yang lulus SD aja enggak.."
Seolah-olah Ia mengerti apa yang saya pikirkan. Saya pun hanya tersenyum dan terus memperhatikan. Ada semangat yang terlihat dari mereka untuk melakukan hal-hal kecil demi penolakan penutupan lapangan pekerjaan mereka. Tidak ada perasaan terpaksa yang terlihat. Mereka tertawa terbahak-bahak ketika salah aba-aba. Khidmat ketika menyanyikan lagu wajib. Terakhir, saya baru tahu kalau mereka tidak hanya menghafalkan dua lagu wajib itu. Di lembaran lirik lagu, saya melihat ada beberapa lagu perjuangan yang biasa dinyanyikan saat demonstrasi, termasuk Darah Juang.
Proses syuting dengan PSK, mucikari, dan pedagang kaki lima di Dolly pun dimulai. Rasanya tak perlu saya ceritakan tentang ini karena kalian bisa menontonnya besok malam.
Malamnya, saya berkumpul dengan puluhan awak media lainnya berkeliling Dolly (yang buka seperti biasa), dipandu oleh Pokemon. Ada teriakan-teriakan dari warga yang terdengar sayup-sayup di tengah dentuman musik dangdut remix.
"Ngomongin moral makanya mau nutup Dolly? Lha wong Menteri Agama kita aja ga bermoral!"
"Deklarasinya di Islamic Center, jadi yang tutup Islamic Center, Dolly tetep buka."
"Dolly tetep buka, Mbak!"
Semacam itulah.
Saya masuk gang-gang kecil yang dipenuhi dengan perempuan-perempuan yang rata-rata berusia 25 tahun duduk manis di sofa, menutupi wajahnya dengan koran atau masker, membiarkan para kuli tinta mengambil gambar mereka dari sisi luar 'akuarium'. Ya, beberapa wisma di Dolly memang sudah seperti akuarium, jendela depannya memiliki kaca yang lebar untuk memudahkan para tamu menikmati kemolekan tubuh para PSK yang duduk di sofa panjang di dalamnya. Di sepanjang gang, berjajar wisma yang jadi satu dengan rumah warga, pedagang kaki lima yang menjual rokok, kondom, dan antibiotik, serta rumah-rumah yang lantai bawahnya sudah dimodifikasi khusus untuk tempat parkir sepeda motor. Masuk ke gang yang lain, ada wisma yang jadi satu dengan tempat karaoke, kafe-kafe dengan musik nyaring yang menyediakan bir, juga tempat-tempat pijat. Tak heran jika banyak media cetak menuliskan bahwa perputaran uang di Dolly mencapai satu milyar rupiah dalam semalam. Lokalisasi bukan hanya tentang prostitusi, tapi di Dolly, ada ribuan orang menggantungkan hidupnya dari perbuatan yang dianggap amoral ini.
Setelah semua pandangan mata, pendengaran saya yang merangkum potongan cerita warga sekitar, saya tetap setuju lokalisasi ini ada. Bukan tentang sisi humanis yang tersentuh membayangkan ribuan orang kehilangan pekerjaan, bukan juga tentang anggapan bahwa PSK justru lebih baik dikumpulkan dalam satu lokalisasi daripada harus tersebar di penjuru kota, melainkan tentang moral. Bukan moral para PSK atau mucikari, tapi moral para penggunanya. Menurut saya, yang juga diiyakan oleh Zoya Amirin, psikolog seksual yang saya kenal kemarin, yang harus diatur adalah tamu yang datang. Biarlah PSK tetap ada, tapi harus ada efek bagi para tamunya. Pemasangan CCTV di Dolly sudah benar. Jika perlu, dibuatlah sebuah lokalisasi yang untuk masuk kesana harus mendaftar dulu, meninggalkan KTP, dan hanya satu pintu. Secara tidak langsung, moralitas seseorang dapat diukur dari sini. Untuk menghindari penyebaran HIV, harus ada pemeriksaan kesehatan rutin dan mengeliminasi mereka yang terjangkit HIV dengan cara memberi mereka pelatihan pekerjaan yang lain secara intensif agar tidak dapat menyebarkan HIV-nya. Isu human trafficking? Kawal mucikarinya, harus ada organisasi yang mampu mengatur dan mengawasi 'kesehatan' kehidupan lokalisasi. Jangan sampai ada anak di bawah umur yang terjual di dalam lokalisasi.
Saya hanya mampu berdoa, calon suami saya punya moral yang baik, selalu ingat Tuhannya, dan sadar bahwa lokalisasi bukan tempat 'jajan' yang sederhana seperti di permukaannya. Dan membiarkan para PSK, yang manusia biasa, sama seperti kita ini, mencari jalan untuk tetap hidup dan urusan moral, serahkan pada Ia dan Tuhannya saja. Seperti mereka yang menyerahkan moral kita pada kita dan Tuhan kita sendiri. Mereka tak pernah memaksa orang untuk datang ke lokalisasi dan menjadi tamu mereka.


Sejarah Dolly

Gang Dolly, Dolly, Siapa Dia?

Sesungguhnya protes pertama terhadap Gang Dolly sudah terjadi puluhan tahun sebelumnya. Ini menyangkut penggunaan nama "Dolly".

 
Advenso Dollyres Chavit (dok. Majalah Jakarta-Jakarta)
Gang Dolly, Surabaya, tetap ditutup 19 Juni 2014 lalu. Tetapi, begitulah. Tidak mudah. Penutupan Gang Dolly di kawasan Kampung Kupang menuai kontroversi. Ada pro, ada kontra. Tetapi sesungguhnya protes pertama sudah terjadi puluhan tahun sebelumnya. Ini menyangkut penggunaan nama "Dolly".
Siapa yang pertama melayangkan protes? Ya, Dolly sendiri. "Kenapa kok (pakai) namaku? Padahal germo di sana kan banyak?" tanyanya pada tahun 1990-an.
Sosok Dolly memang seperti legenda. Legenda dalam dunia persyahwatan di Surabaya. Sohor, tetapi jarang sekali bisa dijumpai.
Orang kerap berasumsi ia adalah seorang germo, perempuan, keturunan Belanda. Ada yang bilang namanya Dolly van der Mart. Desas-desus lain menyebutkan dia sebenarnya seorang lelaki. Sebab sebagai germo panggilannya bukan "Mami" tetapi "Papi Dolly". Benarkah? Tidak. Lalu?
Jadi, siapa sebetulnya Dolly?
Dolly adalah nama panggilan. Nama lengkapnya Advenso Dollyres Chavit. Chavit adalah nama ayahnya, seorang Filipina. Ibunya bernama Herliah, orang Jawa. Dolly lahir sekitar tahun 1929.
"Aku ini hanya sekolah mindho (level SMP). Itu pun tidak tamat karena ada perang. Ibuku pun bukan orang yang mampu. Maka hidupku biasa-biasa saja, tidak ada peningkatan," tutur Dolly kepada Bambang Andrias, kontributor Majalah Berita Bergambar Jakarta-Jakarta, 23 tahun silam.
Dolly mengenang kehidupan keluarganya yang cukup relejius. "Orangtua mendidikku untuk sering ke geraja. Pokoknya harus selalu ingat Tuhan," tambahnya.
Namun entah kenapa perangai Dolly di luaran menjadi sungguh berbeda. Dolly yang tomboi cenderung memberontak. "Umur 16 tahun aku mulai merokok. Waktu itu (rokok) yang terkenal Escort, Commodore atau Kansas," kenangnya. Perempuan merokok bukanlah hal umum pada masa itu.
Dolly boleh tomboi. Tetapi itu tak menutupi kecantikannya. Sambil menunjuk foto masa muda, Dolly berkisah betapa seksi dia, diiringi tawa terkekeh-kekeh.
Menjelang umur 20 Dolly menikah dengan Soukup alias Yakup, seorang kelasi Belanda. Dari pernikahan itu lahirlah anak lelaki. Tetapi belum lagi sang anak masuk ke umur lima tahun, Yakup sang suami meninggal dunia.
Dolly yang cantik pun mulai menghadapi krisis keuangan. Mana sang anak kerap merengek meminta ini-itu. Semisal es krim, yang pada masa itu termasuk jajanan mahal. Untuk membesarkan sang anak serta mencukupi kebutuhan sehari-hari Dolly butuh biaya.
Maka babak baru dalam kehidupannya pun bergulir. Mungkin terdengar klise. Tetapi ia mengaku terpaksa saat memutuskan untuk melangkah ke dunia prostitusi pada awal tahun 1950-an.
Kecantikan Dolly dan kefasihannya berbahasa Belanda membuat banyak laki-laki mencarinya. Dolly dengan mudah menjadi idola. Khususnya bagi para eksptariat yang baru turun dari kapal. "Aku ini cantik. Tubuhku tinggi-ramping. Banyak lelaki tergila-gila," jelas Dolly.
Dolly biasa meladeni lelaki di Hotel Simpang atau LMS. Dolly mengaku tidak pernah meminta bayaran uang kepada lelaki yang mengencaninya. "Aku ini pelacur kelas atas. Aku enggak pernah mau dibayar," jelasnya. Kompensasinya adalah: ia hanya mau menerima berbagai barang mahal. Dalam istilah Dolly, "Aku cuma menerima 'kado'."
Banyak lelaki ingin menikahi Dolly. Tetapi permintaan itu ditampiknya. Dolly memilih menjadi single parent. Alasannya simpel. Ia tak ingin satu-satunya anak lelaki yang ia miliki menerima perlakukan kasar dari ayah tiri.

(Eddy Suhardy, Sumber: Majalah Jakarta Jakarta No 270, 31 Agustus 1991)

===

Gang Dolly, Dolly, Siapa Dia? (II)

Pada tahun 1990-an Dolly memang lebih banyak bermukim di Malang. Setidaknya ia menanggung kehidupan 10 orang.

 
Advenso Dollyres Chavit (dok. Majalah Jakarta-Jakarta)
Awal 1960-an Dolly hijrah ke Kembang Kuning. Inilah komplek pelacuran di Surabaya. Ia kemudian diasuh oleh Tante Beng. Nama terakhir adalah nama mucikari sohor pada masa itu.
Sekitar delapan tahun ia menjadi anak kesayangan Tante Beng. Pada masa-masa itu ia mulai mengumpulkan aset. Pelajaran ngegermo, menurut Dolly juga ia dapatkan dari sang mucikari.
Sekitar tahun 1969 Dolly memutuskan pindah ke kawasan Kupang Gunung. Di sanalah ia membangun rumah, di bekas lahan kuburan cina. Dolly mulai mengusahakan "wisma" – istilah lain untuk rumah bordil. Dari satu wisma, berkembang hingga empat. Ada Istana Remaja, Mamamia, Nirmala, lalu Wisma Tentrem. Setiap wisma menampung sekitar 28 pekerja seks komersial (PSK).
Rumah bordil miliknya, menurut Dolly dibangun tanpa bantuan arsitek atau pemborong. Dolly mengaku memandori sendiri. Sebuah kemampuan yang dipelajari dari orangtuanya.
Jadi, mulai alihprofesi, dari seorang pramusyahwat , eh, PSK, menjadi germo? Dolly menyatakan tidak sepenuhnya benar.
Dolly bilang ia memang sempat menjadi germo, tetapi hanya sebentar saja. Ia lebih memilih untuk menyewakan wisma miliknya ke orang lain. "Aku memang mbangun bordil. Tetapi aku tidak mengelola sendiri. Habis mbangun tak sewakan," kisahnya. "Aku tinggal mengambil uang sewa, wis, enak," tutur Dolly dalam percakapan yang hampir seluruhnya berlangsung dalam dialek Jawa Timuran.
Nah, kok? Kenapa Dolly kurang senang menjadi germo?
"Aku iki nggak mentholo jadi germo. Keluargaku tidak ada yang turunan germo. Anake wong. Kasihan. Kalau jual 'daging' aku pengalaman. Tapi kalau disuruh jadi germo, aku tidak bisa," ujarnya.
Sepanjang tuturannya Dolly bilang ia tidak ingin jadi germo karena tahu bahwa menjadi pelacur itu sungguh tidak enak. "Pelacur itu sakaken. Jadi pelacur itu kasihan. Pelacur itu sengsara di dunia. Aku nggak bisa cerita panjang tentang pelacur."
Di mata Dolly, profesi PSK bukanlah dosa. "Aku melihat pelacur itu macam-macam. Ada yang putus cinta, ada yang karena kesulitan ekonomi. Tetapi semua itu tidak dosa. Dia cari makan. Orang lakinya yang datang sendiri."
Lalu seberapa kayakah Dolly dari usaha seperti itu? Ia hanya merinci: setiap 10 hari ia menerima uang Rp 2,1 juta dari satu wisma. Itu terjadi pada tahun 1991. Kurs dollar terhadap rupiah sekitar dua ribu perak.
Uang sewa wisma menurut Dolly tidak besar. "Dan uang itu habis aku bagi-bagikan ke anak-cucuku," jelasnya. "Aku tidak kaya yang miliaran. Tapi aku sugih iman. Sugih kepribadian. Jadi aku tidak kaya, tapi cukup untuk dimakan orang banyak," tegasnya.
"Aku ingin tahu rasanya mengurus orang banyak. Aku pernah diangkat sebagai anak oleh orang, jadi ingin tahu rasanya momong orang banyak. Aku seneng. Aku tidak kaya, tapi cukup untuk makan. Aku bahagia."
Pada tahun 1990-an Dolly memang lebih banyak bermukim di Malang. Setidaknya ia menanggung kehidupan 10 orang. Semuanya sudah diangap anak dan cucu sendiri, termasuk seorang perempuan penderita kanker. Saat itu sudah 10 tahun Dolly merawatnya.
Mungkin karena kedekatannya, banyak orang menduga Dolly adalah lesbian. Dugaan lesbian itu bisa jadi terbentuk karena gaya Dolly yang cenderung tomboi. Apalagi sebagai germo, predikat yang dipakai adalah "papi" bukan "mami". Ya, orang memanggilnya "Papi Dolly".
"Aku tidak lesbian. Aku tidur juga sendiri-sendiri. Aku nolong orang kok dikatakan lesbian," nada suaranya agak gusar.
Anak Dolly ada lima. Di antaranya ada satu anak kandung. Salah satu anak angkatnya adalah anak angkat mantan "mami"-nya, Tante Beng. "Tante Beng itu nggak pernah melahirkan, tetapi ingin punya anak. Begitu mengambil anak kecil. Aku yang ngopeni. Anak itu baik. Mengerti sama orangtua," tuturnya.
Bersama anak dan cucu Dolly merasa bahagia. Ia bahkan menganggap tidak perlu menikah lagi. Sebuah keputusan yang sudah ia niatkan sejak sang suami meninggal.
Dolly hanya ingin merawat—terutama—anak kandungnya. Anak satu-satunya yang ia katakan sebagai tempat curahan kasih sayang.
"Menurut pengalamanku aku tahu banyak lelaki yang kurang ajar. Mungkin karena mereka enggak pernah melahirkan. Dan aku pernah melahirkan. Melahirkan itu susah. Anakku lahir dengan tohpati, ditarik dengan tang."
Ironisnya, pada tahun Dolly diwawancara, ia tengah bersitegang dengan sang anak kandung. Urusannya bahkan menggelinding hingga ke jalur hukum.
Usianya sudah lewat 62 tahun saat itu. Mulai sepuh dan sering batuk. Cuma, dalam kondisi seperti itu, ia masih merokok. Sehari lima bungkus. Bahkan lebih.
Perempuan yang sehari-hari gemar mengenakan kemeja dan kain sarung itu bilang ia akan menjual semua wismanya di Gang Dolly. Uang yang terkumpul akan dijadikan modal usaha di Malang. Usaha apa?
Dolly sendiri agak bingung. Pada tahun 90-an ia sempat berjualan batik, sarung dan seprei yang didatangkan dari Yogya atau Solo. Tetapi nampaknya usaha itu tidak berjalan lancar.
Lebih dari 20 tahun sejak wawancara, kabar dari "Legenda Surabaya" itu nyaris tak terdengar. Kita kembali teringat ketika ribut-ribut penutupan Gang Dolly.
"Ya memang aku yang pertama kali membuka di sana. Tapi waktu mbangun aku bukan germo. Tak bangun lalu tak sewakan. Jadi aku bukan germo. Dan aku heran di Gang Dolly itu yang kaya malah jadi kaya dan enak-enak. Tapi yang jadi sasaran kok aku? Kok namanya jadi Gang Dolly?"
Keinginannya untuk menghapus nama Dolly dari kawasan itu, barangkali sudah didengar. Kini setelah hampir setengah abad berkembang Gang Dolly ditutup.
Ah, Dolly, Advenso Dollyres Chavit. Ia mungkin tak menyangka. Bahwa kisah hidupnya bakal tersangkut kepada nama kawasan prostitusi yang pernah menyandang predikat terbesar di Asia Tenggara.

(Eddy Suhardy, Sumber: Majalah Jakarta Jakarta No 270, 31 Agustus 1991)

Wednesday, June 18, 2014

Akhir Cerita Dolly?


Penutupan Dolly dilaksanakan hari ini. Risma, Walikota Surabaya, bersikeras Dolly, lokalisasi terakhir di Surabaya dan terbesar se-Asia Tenggara ini, harus ditutup. Adapun alasan-alasan yang beredar di masyarakat dan media mengenai penutupan Dolly sebagai berikut:
1.  Salah satu indikator keberhasilan kepemimpinan Risma. Namun anehnya, kebijakan ini justru sempat dikabarkan berseberangan dengan Wakil Walikota Surabaya, Whisnu yang sebenarnya juga berasal dari satu partai yang sama dengan Risma, PDIP. Namun setelah dikonfirmasi oleh Hasto semalam, Hasto menjelaskan, sejak awal, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana juga sependapat dengan rencana penutupan Dolly. Perbedaan pendapat hanya terletak pada tahap pembinaan PSK karena ingin memastikan penutupan lokalisasi prostitusi itu tidak menimbulkan masalah sosial baru.
2.  Agama. Tidak dipungkiri, sesuai perkataan KH Khoiron, kiai yang berhasil membuat PSK dan mucikari Bangunsari (sudah lama ditutup) bertobat,prostitusi memang tidak dapat dihentikan sampai akhir zaman, namun lokalosasi adalah hal yang berbeda. Lokalisasi dapat ditutup untuk menghambat prostitusi, yang jelas-jelas menyalahi agama Islam.
3.   'Pembersihan' dan pembenahan Surabaya. Menurut Risma, percuma Ia membangun sekian banyak taman di Surabaya jika Ia tak mampu membuat Surabaya benar-benar bersih dari sampah masyarakat. Sebelumnya, ada sekitar lima lokalisasi di Surabaya, dan hanya Dolly yang masih terus bertahan hingga saat ini.
4.   Pesanan mucikari pasar atas. Menurut ormas yang menolak penutupan Dolly, kebijakan ini dapat membuat pasar PSK kelas atas yang ada di dalam tempat-tempat hiburan malam di luar Dolly kebanjiran pelanggan. Dan secara keuntungan, nightclub juga lebih menguntungkan bagi pemerintah kota daripada lokalisasi seperti Dolly.
5.    Pengaruh buruk ke anak-anak warga sekitar. Dolly tidak hanya ditinggali oleh PSK dan mucikari, melainkan juga keluarga-keluarga normal yang memiliki anak-anak usia sekolah. Dalam salah satu artikel, ada yang menggambarkan betapa mudahnya anak sekolah tersentuh rokok dan minuman keras karena akses untuk mendapatkannya pun sangat mudah di lingkungan mereka. Belum lagi godaan bagi remaja putri yang akhirnya terjerumus ke lahan prostitusi di Dolly. Anak-anak lain juga jelas akan tumbuh secara berbeda karena mengenal seks lebih dini di lingkungannya.
6.    Penyebaran penyakit HIV/AIDS ke ibu rumah tangga yang tak berdosa. Tak ada yang tahu siapa dan dari mana para pelanggan Dolly berasal. Ada kemungkinan para lelaki hidung belang yang tertular HIV dari lokalisasi,membawa virus ini ke ibu-ibu rumah tangga yang menanti di rumah. Ini terbukti dengan meningkatnya jumlah penderita HIV yang berasal dari kalangan ibu rumah tangga akhir-akhir ini.
7.    Human trafficking. Berdasarkan pendataan, PSK yang ada di Dolly memang mayoritas berasal dari luar daerah Surabaya. Dan sebagian besar, pada awalnya mereka tidak berniat untuk bekerja sebagai PSK. Dengan keterbatasan keterampilan dan pendidikan, ada beberapa orang yang menemukan mereka dan mengajak untuk bekerja menjadi cleaning service, buruh cuci, atau sejenisnya di lokalisasi. Terpapar oleh prostitusi dan mengenal betapa mudahnya mendapatkan uang melalui cara ini, belum lagi rayuan para mucikari, akhirnya mereka pun jatuh ke prostitusi. Maka dari itu, banyak yang mengatakan, mereka adalah korban. Komnas HAM, mendukung penutupan dengan alasan ini, namun tetap mengawal nasib para individu di dalamnya agar tidak ditelantarkan oleh pemerintah.
Mungkin masih banyak alasan lain yang beredar di masyarakat selain tujuh hal di atas. Banyaknya alasan tidak serta merta dapat memuluskan jalan penutupan Dolly. Pemasangan CCTV di Dolly sejak tahun lalu, hanya berperan kecil untuk mengurangi pelanggan Dolly. Dolly masih tetap berjaya. Berdasarkan kesimpulan dari beberapa artikel, susahnya penutupan Dolly dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini:
1.  Kurangnya kesiapan dan kejelasan pemerintah dalam merencanakan kehidupan Dolly setelah penutupan. Hal ini menyebabkan banyak pelaku ekonomi di Dolly juga ragu untuk berpindah profesi atau tidak adanya fasilitas yang dapat menampung mereka setelah ini. Pengalaman penutupan di lokalisasi lain juga berdampak buruk bagi Dolly. Berdasarkan penelusuran tim Realitas, lokalisasi Tambak Asri Surabaya yang tadinya ditutup juga sekarang akhirnya hidup lagi secara kucing-kucingan karena pemerintah tidak menepati janji untuk member 10 juta rupiah per mucikari setelah penutupan.
2.  Adanya intimidasi dan perlawanan. Isu penutupan jelas memecah Dolly menjadi dua kubu, yang menolak dan mendukung. Otomatis, mereka juga melakukan cara-cara untuk mempengaruhi mereka yang belum mengambil sikap. Unjuk rasa para PSK ke jalan juga patut diperhitungkan. Apalagi mereka mengancam akan memboikot pilpres Juli mendatang jika Dolly jadi ditutup. Bahkan spanduk yang tersebar di Dolly bertuliskan, “TOLAK PENUTUPAN DOLLY... HARGA MATI!”
3.   Kesiapan PSK, mucikari, dan warga sekitar untuk menjalani hidup di luar lingkaran prostitusi. Mereka mungkin memilih ada di jalan ini karena tidak memiliki keterampilan atau pendidikan yang dapat digunakan untuk bekerja selain memuaskan hasrat seks lelaki hidung belang. Mereka mengatakan bahwa ini hanya masalah perut, urusan iman itu urusan mereka dan Tuhan mereka masing-masing, bukan pemerintah. Belum lagi janji Kementerian Sosial yang akan memberi uang senilai 5,05 juta per PSK, dan janji untuk memulangkan mereka ke daerah asal, dirasa kurang. Mereka menganggap, dana Usaha Ekonomi Kreatif (UEP) sebesar 3 juta, 1,8 juta untuk upah dengan rincian 20.000 rupiah per hari selama 90 hari dan 250 ribu rupiah untuk transportasi mereka pulang ke kampungnya tidak dapat menjadi modal usaha yang pasti. Sedangkan untuk mucikari dan keluarga rentan yang terkena dampak, akan diberi uang oleh pemerintah provinsi dengan jumlah yang belum dipublikasikan.
4.    Hutang para mucikari. Inilah kasus yang kurang diekspos oleh sebagian besar media. Perputaran uang di dalam Dolly tidak segampang yang terlihat di permukaan. Meskipun PSK mampu meraup 11-15 juta per bulan, mereka juga punya hutang yang sangat banyak pada mucikari mereka karena banyak PSK yang harus merawat diri dan membutuhkan uang lebih untuk biaya make up atau baju, hal-hal di luar kebutuhan primer untuk meningkatkan nilai jual mereka di mata lelaki. Mucikari, tentu menjadi pihak yang paling untuk di kawasan lokalisasi karena mereka memainkan uang pelanggan, sekaligus uang para PSK.
Jika ditanya satu per satu, jelas akan lebih banyak lagi kendala yang dapat diungkap. Namun inilah yang paling banyak dikeluhkan dan dipermasalahkan di Dolly. Belum lagi terganjal dengan dampak-dampak buruk yang sudah terpikir oleh masyarakat pelaku ekonomi di Dolly. Matinya perekonomian, jelas. Perputaran uang di Dolly dapat mencapai 1 milyar dalam semalam. Dengan ribuan PSK, ratusan mucikari, juru parkir, pedagang, supir becak dan angkutan umum lainnya, calo rumah prostitusi yang sistem kerjanya sudah seperti calo di terminal dan mendapat 10% dari tarif PSK, salon kecantikan, buruh cuci, hingga tim keamanan atau preman di Dolly akan kehilangan pendapatan. Di luar masalah ekonomi, para PSK yang tidak jelas-jelas mengakui pekerjaan mereka di hadapan keluarga di kampung, tentu akan tetap menjadi PSK, akhirnya, mereka akan menyasar daerah lain sekitar Surabaya. Ini pun sudah jadi pertimbangan daerah-daerah lain sekitar Surabaya. Bahkan Bali, sudah menggelar razia yang menyaring PSK eks-Dolly sejak bulan lalu. Bayangkan saja, akan ada ribuan PSK yang tumpah ke daerah lain setelah hari ini.
Satu hal yang menjadi dilemma besar dalam penutupan lokalisasi ini, yakni penyebaran HIV/AIDS. Di satu sisi, dengan adanya lokalisasi, para PSK terkumpul dalam satu daerah saja, tidak tersebar ke banyak daerah, entah itu mengidap HIV atau tidak. Tapi di sisi lain, dengan adanya lokalisasi, para pria beristri bisa dengan mudahnya juga membawa HIV pulang ke rumah, ke anak dan istrinya. Entah kebijakan mana yang terbaik, mengumpulkan mereka di satu tempat, atau melepas mereka begitu saja ke masyarakat, tanpa ada yang tahu penyakit apa yang mereka bawa.
Lalu apa keuntungan dari penutupan Dolly? Dan akan jadi seperti apa Dolly setelah ini? Tri Rismaharini, singa betina yang terus mengaum ini menjanjikan akan membuat gedung enam lantai, dilengkapi dengan lift, yang isinya akan menampung para PKL, perpustakaan dan taman bermain untuk anak-anak, balai warga, dan berbagai fasilitas untuk kebaikan warga lainnya.
Jika bicara tentang mana yang terbaik, ada atau tidaknya Dolly di Surabaya, semua relatif. Yang terbaik untuk kita, belum tentu itu juga baik untuk orang lain. Begitupun sebaliknya. Mencari jalan tengah yang berpihak pada semua kalangan, bukanlah hal yang mudah, karena sampai detik ini, kebijakan yang dinilai populis seperti ini pun mendapat penolakan yang menyebutkan bahwa pemerintah tidak memikirkan nasib mereka, para penjaja cinta semalam di Red Light District-nya Surabaya.
  

Thursday, May 15, 2014

Narasumber yang Tersakiti?

Sekian bulan bekerja di MetroTV sebagai tim riset program Sudut Pandang yang tayang setiap Sabtu, 22.30 WIB, saya seringkali mengangkat tentang kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual. Hingga beberapa hari lalu setelah episode 'Pelecehan Seks di Sekolah', saya menerima kritik yang ditujukan ke akun Twitter resmi Sudut Pandang @MetroTV_SDP yang berisi:

"kalau ada kasus pelecehan seks atau pemerkosaan lagi sebaiknya tidak melakukan wawancara pada korban karena akan menyakiti mereka lagi"

Disini saya akan menjelaskan bahwa program ini tidak sekejam itu dengan mudahnya membasahi luka mereka yang hampir kering. Ada proses pendekatan pada narasumber yang perlu diketahui, dan proses ini saya sendiri yang melakukan.
Sebagai tim riset, saya sendiri yang melakukan riset awal berbagai kasus pelecehan seksual. Beberapa kasus ini saya ajukan ke tim program. Produser dan presenter akan memilih beberapa yang kemudian akan diproses dengan menghubungi langsung potensial narasumbernya, entah itu korban atau orang tua korban. Dalam proses ini, jika calon narasumber tidak berkenan untuk bercerita kepada saya, maka saya tidak akan memaksa dan tidak akan melanjutkan pre-interview.
Ada hal penting yang perlu ditekankan disini. Tidak semua korban pelecehan seksual itu mengalami trauma berat yang membuat mereka menutup diri dari lingkungan. Ada beberapa orang yang memang memiliki mental kuat, dan justru ingin menceritakan pengalamannya dengan tujuan agar tidak ada orang-orang yang mengalami kejadian yang seperti dialaminya, sama seperti tujuan program saya ketika mengangkat tema berbau seksual. Mereka inilah orang-orang yang bersedia untuk bercerita pada saya, yang kemudian saya laporkan hasil pre-interview-nya pada tim program saya.
Setiap saya mewawancarai calon narasumber melalui telepon atau mendatangi langsung ke rumahnya, saya selalu butuh waktu sekian menit untuk mengatur diri saya sebelum menekan nomor teleponnya atau mengetuk pintu rumahnya, untuk 'memasukkan' kasus mereka ke dalam diri saya. Ini penting untuk membuat calon narasumber merasa nyaman dan percaya. Saya pun tidak menganggap narasumber hanyalah obyek yang hanya digunakan untuk pembuatan tayangan. Saya tetap menjalin hubungan kekerabatan dengan mereka meskipun episode mereka sudah tayang, itu pula yang dilakukan oleh presenter program saya, Fifi Aleyda Yahya.
Fifi Aleyda Yahya memang terkenal memiliki pendekatan yang sangat baik dengan narasumber karena memiliki sosok keibuan. Tidak sedikit narasumber yang umumnya perempuan dan masih remaja justru merasa nyaman ketika menceritakan kasusnya kepada Fifi Aleyda Yahya.
Selain keinginan narasumber yang mencegah adanya korban selanjutnya, ada faktor lain yang dapat mempersilahkan media mengangkat cerita tentang kasus pelecehan seksual langsung dari korban atau orang tua korbannya. Mempercepat proses hukum. Ya, ketika kasus mereka masuk ke media, akan ada banyak masyarakat yang mengetahui bahwa kasus ini ada, dan proses hukum mereka pun akan didesak oleh masyarakat. Dalam dunia jurnasltik, ini disebut Pull Factor, seperti yang dijelaskan oleh Dandhy Dwi Laksono dalam kelas Jurnalisme Investigasi, Sabtu lalu. Ini halal, dan wajar. Ada simbiosis mutualisme yang kuat antara media dan narasumber disini.
Media tempat saya bernaung, melindungi identitas narasumber dengan sangat hati-hati. Identitas mereka selalu ditutup dengan sempurna ketika pengambilan gambar. Semua atas persetujuan narasumber. Narasumber pun selalu me-review sendiri hasil pengambilan gambar tersebut di control room.
Jadi, siapa yang tersakiti?

Tak apa. Ketika saya belum masuk ke dunia media pun saya selalu punya kritik sejenis. Tapi ketika saya masuk dan mengalami sendiri bagaimana caranya menjalin kedekatan dengan narasumber kasus-kasus sensitif, saya paham betul, tayangan talkshow berdurasi satu jam yang ada di televisi, tak sesederhana yang pernah saya bayangkan. Ada tim yang hebat di baliknya. Dan ada banyak, bahkan sangat banyak orang yang jauh lebih hebat dan kuat di luar sana untuk menceritakan pengalamannya ke kita semua, dengan niat mulia.


Thursday, March 13, 2014

Yang Sempurna dan Menyempurnakan

Pernah ada satu titik dimana saya merasa tidak dapat diterima oleh siapapun, tidak memiliki satu hal apapun yang lebih dari orang lain. Benar-benar terbuang. Kemudian Allah menambal setiap kekurangan satu persatu. Menuntun sepanjang jalan, menaiki anak tangga satu persatu, langkah demi langkah.
Lulus terlalu cepat dari bangku kuliah, kehilangan sosok-sosok yang tadinya (terlihat) menyayangi, menginjak dunia kerja yang cukup kejam dan sangat tidak nyaman karena tidak sesuai passion. Tuntutan orang tua. Bangkit dari sakit dan masih dalam pengawasan penuh, tanpa sanggup meraih kebahagiaan di dunia luar.
Sampai akhirnya itu semua membuat saya lebih dekat dengan keluarga. Menyadari ada kehidupan kecil di dalam rumah yang jauh lebih berharga dari apapun di luar sana. Kemudian menyadari ada orang-orang yang tetap setia bersama meskipun mereka sempat terlupakan.
Sampai akhirnya suatu sore sepulang kerja, Allah membisikkan nama saya ke salah satu teman saya di ibukota untuk segera mengirimkan CV ke e-mail atasannya untuk dapat mengikuti tes masuk kerja di tempat impian saya, media. Restu dari Ibu tak terbendung, entah kenapa. Sebelumnya, beliau tidak pernah mengizinkan saya untuk angkat kaki dari kota pahlawan.
Berhasil melewati semuanya, disini saya sekarang. Allah melengkapi hidup saya. Diberi keluarga yang sangat perhatian, teman-teman yang sangat baik dan selalu menjaga saya, pekerjaan yang tidak hanya mampu mencukupi, namun juga membahagiakan. Sampai akhirnya hanya ada satu sisi yang belum Allah isi. Hati.
Rasa kehilangan, trauma, sakit hati, pesimis itu masih ada. Takut menjalin hubungan lagi dengan laki-laki lain, dan akhirnya putus lagi. Menjalin hubungan pertemanan hanya demi mengisi kehidupan, menerapkan apa yang Ibu tanamkan sejak kecil, "Bersikap baiklah pada siapapun, seberapa jahatnya mereka. Suatu saat akan ada orang jahat yang bersikap baik kepadamu. Bertemanlah dengan siapapun."
Tidak membedakan profesi atau materi, saya nyaman berteman dengan siapapun disini. Hingga saya lupa rasanya jatuh cinta.
Sebuah Minggu pagi datang, saya dihadapkan pada keadaan dimana saya menyadari bahwa saya jatuh cinta pada orang yang selama ini selalu bersama saya. Hampir lima tahun, saya mengenalnya dengan baik (maupun buruk). Memahami degan detail bagaimana sifat dan sikapnya. Tanpa pernah terpikir sebelumnya akan datang pagi dengan perasaan seperti itu di hidup saya dan dia.
Satu kalimat tanya yang tak sesederhana ejaannya keluar dari mulut laki-laki itu di satu Jumat pagi.
"Kamu mau jadi calon istriku?"
Matahari masih hangat, asap rokok masih memenuhi ruangan, dan petikan ukulele masih terdengar. Dan saya mengiyakannya tanpa ragu sedikitpun.
Bayangkan, setelah melewati titik dimana kita terpuruk dan hampir terkubur, Allah memberi segala kenikmatan, membawa kita menjadi orang yang lebih baik, dan tiba-tiba memberi orang yang lebih baik dari siapapun yang pernah kita kenal, menjadi pasangan hidup kita. Dengan semua konsekuensi, pertimbangan, serta pemahaman, saya sudah menjadi calon istri seseorang dan mulai belajar menjadi orang yang lebih baik lagi.
Sayang? Iya. Bukan hanya karena dia benar-benar laki-laki baik, tapi karena memang dia orang yang mampu membuat kupu-kupu di perut saya bangun dan menari. Entah apa yang dia lihat dari saya. Saya bukan orang yang memiliki kemampuan lebih di bidang apapun, tapi saya punya beban yang sama dengan mereka di luar sana. Paling tidak, saat ini saya tidak (hanya) jatuh cinta. Apalah ini namanya, kenyamanan dan keyakinan yang melebur jadi satu ketika beban hidup saya, saya letakkan di pundaknya.
Mungkin ini pertama kalinya kami berdua berpikir keras sebelum menjalin hubungan. Memikirkan bagaimana menyatukan dua keluarga, melengkapi dua watak yang berbeda, membuat komitmen untuk tetap bertahan apapun yang terjadi. Karena kami sudah saling kenal, kami merasa tidak perlu proses pendekatan dan segala hal romantis dan menye-menye yang membuang waktu.
Dua orang dewasa yang menjalin hubungan serius dan sama-sama punya rencana jangka panjang. Terdengar berat, tapi tidak ada satupun yang terasa berat sejak saya menjadi miliknya. Saya memang masih orang yang biasa. Tapi Allah sudah memberi saya satu orang yang luar biasa untuk membahagiakan saya lebih dari kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain. Satu orang luar biasa yang membuat segalanya jauh lebih baik, ringan, dan positif.
Sekarang, ada satu kalimat yang selalu membuat saya tersenyum kecil ketika saya melihat dia menatap tajam layar komputer di meja kerjanya, ketika dia tidak mampu membedakan bagaimana caranya bernyanyi dan berteriak, ketika dia memainkan kursi kerjanya, ketika dia memainkan ukulele dengan lagu yang itu-itu saja, dan ketika dia meracau dengan mata tertutup.
"Allah, iya, saya bersedia menghabiskan sisa hidup saya dengan laki-laki ini."

Terima kasih sudah menjadi yang sempurna dan menyempurnakan, Allah.